Tuesday, September 7, 2010

DIMANA, PERWAKILAN RAKYAT (DPR) YANG SEBENARNYA ?

Rakyat bawah mungkin tidak peduli atau lebih layak di bilang tidak faham dengan rencana pembangunan gedung mewah DPR. Memang sangat riskan jika pembangunan itu, sedangkan kondisi ekonomi di negeri ini sedang sakit, apalagi dana yang di gunakan akan cukup besar jumlahnya.Saya kira jika DPR ini memang berhati untuk mewakili rakyat, tentu mereka akan berkorban demi rakyat, tetapi nyatanya justru terbalik. Dari kenaikan gaji, mobil mewah, masih bellum cukup pula. Memang sangat kejam .

Presiden Susilo Bambang yudhoyono mengatakan bahwa pembangunan gedung itu masih belum waktunya. Nah ini justru berbalik fungsi, yang seharusnya DPR mengontrol presiden, ini malah berbalik presiden mengontrol DPR. Sebenarnya sangat sederhana, dari namanya saja “Dewan Perwakilan Rakyat”. Sangat jelas bahwa mereka mewakili rakyat. Tetapi kenapa rencaaana peembangunan gedung itu masih menguat jugaa. Kritik terus berdatangan. Seharusnya jika DPR membawa nama Rakyat atau lebih dalam adalah merasakan hati rakyat dan melihat kondisi masyarakat bawah, tentu akan berfikir ulang dengan perencanaan itu, toh masih banyak alternatif lain yang lebih memihak kepada rakyat.

Dengan penundaan pembangunan ini akankah berujung pada mencari jalan keluar yan laabih bauk aatau menunggu masyarakat telah redup wacana tentang gedung itu. Penundaan ini lebih bersifat pada memburuknya citra DPR di masyarakat “jawapos 07-09-2010. namun Marzuki Ali selaku ketua DPR menatakan “kalau di tanya gedung ini mahal, kami ga ngerti, atau di anggap mewah, silahkan tanya ke bahur. Tidak pernah kami meminta bangunan sekian puluh lantai? Kami juga tidak minta kolam renang”. Ini sungguh alasan yang mengada-ada, hal mewah, mahal dan megah tentu rakyat akan menilai, misal dari anggaran saja sudah begitu besar 1.6-1.8 triliun. Mau jadi apa kalau ketua DPR kita begini. Dengan pernyataan itu malah semakin menjustmen bahwa memang DPR tidak melihat kebawah, seharusnya dengan kadar megah, mewah dan mahal itu di bandingkan dengan kondisi ekonomi rakyat.

Fraksi PKS yang di sebut-sebut menolak pembangunan tersebut, ternyata tidak sepenuhnyaa, tapi setidaknya ada alternatif yang di tawarkan. Ketua FPKS mengatakan bahwa penundaan pembangunan gedung DPR itu di khawatirkan ibu kota pindah, tentu akan mubadzir uang sekian banyak itu. Heran juga, tidak ada fraksi yang dengan tegas menolak pembangunan gedung mewah itu. Lalu dinama wakil rakyat yang sebenarnya? Ray Rangkuti menyindir partau-partai politik, termasuk fraksi di DPR yang terlihat seolah menolak pembangunan gedung baru, tapu BURT ternyata masih terus berjalan. Saya kira ini bagian dari strategi untuk memuluskan pembangunan gedung mewah DPR. Sampai kapan Rakyat ddi kibuli !!!!

Monday, September 6, 2010

DERITA GURU DI PELOSOK MALUKU TENGAH

Kisah penderitaan seorang kawan yang mendahului menjadi guru di daerah pelosok Maluku Tengah Kec. Seram Utara. Potret pendidikan yang kurang kepekaan dari pemerintah setempat.

KOMPAS.com - Saat tak ada yang peduli pendidikan bagi Suku Hoaulu, Joris Lilimau tampil berperan. Ia mengenalkan sekolah bagi suku yang tinggal di kawasan hutan Taman Nasional Manusela, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, itu.
Jumat (10/07/2010) pukul 06.30 waktu setempat, masih terluang waktu satu jam sebelum pelajaran di Sekolah Dasar Kecil Hoaulu dimulai. Namun, para murid sudah datang dan duduk di kelas.Saat sang guru datang, 30 murid di dua kelas itu mengikuti kegiatan belajar-mengajar, tanpa seorang pun berani mengobrol. Dua tahun lalu, jangan membayangkan antusiasme anak-anak Hoaulu seperti itu.”Ketika sekolah darurat masih dirintis, tak ada siswa yang mau datang,” kenang Joris.

Saat itu, bangunan sekolah beratap sirap, berdinding batang kayu. Ruang keras kerap kosong. Padahal, masyarakat Hoaulu secara gotong royong selama enam bulan telah membangunnya. ”Kesadaran masyarakat untuk membangun sekolah ternyata tidak serta-merta dibarengi kesadaran para orangtua untuk menyekolahkan anak mereka,” katanya.
Harap maklum, mereka sejak ratusan tahun lalu terbiasa menghabiskan hari-hari dengan berburu atau bekerja di ladang. Pendidikan sama sekali tak dikenal sehingga mereka tidak melihatnya sebagai hal penting. Jadi, meski pendidikan di sekolah itu gratis dan anak-anak tak perlu membawa alat tulis dan berseragam sekolah, tetap saja tidak satu pun anak Hoaulu yang mau sekolah.

Joris, yang lahir dan dibesarkan di Kanike, desa pedalaman di Manusela, menyadari kondisi itu, tetapi ia tak patah arang. ”Tahun 2008, saya minta dipindahkan ke Hoaulu untuk mengajar masyarakat pedalaman Hoaulu agar mereka tak terus tertinggal. Kasihan, mereka tidak pernah bisa membaca, menulis, atau menghitung. Sekolah yang ada jaraknya puluhan kilometer dari kampung mereka,” katanya.
Untuk ke sekolah, warga Hoaulu harus berjalan kaki melintasi hutan dan Sungai Oni yang saat musim hujan aliran airnya amat deras. Perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar tiga jam.

Joris mengakui, hanya tekad kuatlah yang membuatnya tetap sabar, mendatangi satu per satu warga Hoaulu untuk menjelaskan pentingnya pendidikan. Biar anak-anak mau bersekolah, ia memberi mereka kue atau permen.”Selama dua bulan, saya melakukan hal itu. Perlahan, mereka mulai mau belajar. Sekarang, justru murid yang datang ke sekolah jauh lebih cepat daripada gurunya, ha-ha-ha,” katanya.

Belakangan, tak hanya anak- anak yang mau belajar. Para remaja berusia 14-16 tahun pun hadir di sekolah. Joris tak mempermasalahkan perbedaan usia tersebut. ”Lebih penting membuat mereka bisa membaca dan menulis biar bisa mengejar ketertinggalan dengan dunia luar,” katanya.Joris mengajari mereka dengan modal 10 buku pelajaran pemberian murid dan guru dari SD di Rumah Sokat, Seram Utara, tempat dia mengajar sebelumnya. Tak hanya mendekati warga dan anak-anak Hoaulu, Joris pun berupaya menyampaikan kondisi di Hoaulu kepada Dinas Pendidikan dan DPRD Kabupaten Maluku Tengah.

Berulang kali dia mendatangi pejabat Dinas Pendidikan dan DPRD Kabupaten Maluku Tengah agar mau memerhatikan warga Hoaulu. Padahal, untuk itu, Joris harus ke Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah yang jaraknya sekitar 140 kilometer dari Hoaulu. Perjalanan itu ditempuhnya dengan menumpang angkutan umum atau sepeda motor sekitar lima jam. Sekitar setahun ia berjuang, pada April 2009 sekolah darurat di Hoaulu itu diakui pemerintah.

September 2009, pemerintah memberikan bantuan berupa uang untuk pembangunan dua ruang kelas di Hoaulu. Pemerintah juga menugaskan seorang guru honorer, Mike Lilimau (21), untuk membantunya mengajar. Namun, setelah sekolah selesai dibangun, perhatian pemerintah malah menghilang. Alat tulis, buku pelajaran, dan keperluan lain penunjang kegiatan belajar-mengajar tidak pernah diberikan.
”Saya sampai menangis meminta barang-barang itu, tetapi tidak pernah diberi,” keluhnya.

Tak ingin semangat belajar anak-anak mengendur, Joris mengeluarkan uang dari kocek pribadi guna membeli barang penunjang kegiatan belajar. Dua papan tulis dengan spidol untuk keperluan dua kelas di SD Kecil Hoaulu itu dibelinya seharga Rp 300.000.

Meski dengan kondisi dan sarana penunjang amat terbatas, Yoris tak ingin kegiatan belajar-mengajar yang sudah diperjuangkannya itu terhenti. Kini, sebagian warga Hoaulu mulai bisa membaca, menulis, dan menghitung.

”Saya memang ingin mengabdi di kampung halaman,” katanya.
Sama seperti Hoaulu, Kanike juga berada di tengah belantara hutan di Manusela. Untuk mencapai kampung itu, orang harus berjalan kaki selama satu hingga dua hari dari Hoaulu. Saat musim hujan, Kanike kerap kali tidak bisa dicapai karena derasnya aliran sungai yang melintas di antara Kanike dan Hoaulu. Meski harus pindah dari Kanike, tekad Joris untuk membuat warga di kampung terpencil bisa melek huruf tetap membara.

Joris bercerita, sekitar tahun 2007 keterisolasian Desa Kobisonta dan Desa Rumah Sokat akhirnya terbuka. Ini dimungkinkan setelah pembangunan Jalan Trans Seram yang menghubungkan Kabupaten Maluku Tengah dan Seram bagian Timur selesai dibangun.
”Memang, menjadi guru, ya, harus seperti ini. Di mana pun guru ditugaskan harus siap. Jangan seperti guru yang waktu ditugaskan di daerah pelosok langsung minta pindah atau hanya mau gajinya. Tetapi, mereka (sebagian guru) hanya sesekali saja mengajar di sekolah itu. Kasihan anak murid,” tuturnya.
Mengajar di daerah terpencil membuat dia merasa amat bahagia. ”Ini sesuatu yang tak ternilai harganya,” ujar Joris tentang anak-anak didiknya yang sebagian sudah menjadi polisi, bidan, juga guru seperti dia.
”Anak-anak pedalaman itu tak ada bedanya dengan anak-anak di perkotaan. Berilah mereka kesempatan mengenyam pendidikan, maka mereka akan membuktikan diri sama pintarnya dengan anak-anak di kota,” tegasnya.
 
"JORIS LILIMAU"

PENDIDIKAN DI MALUKU TENGAH

Kondisi Pendidikan di Maluku Tengah hingga kini masih tetap memprihatinkan. Belum ada perkembangan baik, justeru kian banyak masalah yang membuat anak usia sekolah tidak
dapat menikmati layanan pendidikan dengan baik. Antara guru dan murid sangat tidak sebanding, demikian pula dengan fasilitas pendidikannya.

Demikian disampaikan Ketua Fraksi Persatuan Pembangunan di DPRD Maluku Darul Kutni Tuhepaly ketika berkunjung ke beberapa desa di Kabupaten Malteng. Kepada Ambon Ekspres, kemarin, dia mengatakan permasalahan pendidikan yang ditemukan, hampir sama. “Masalah guru yang tidak sebanding dengan jumlah muridnya, dan ketidaklayakan ruang belajar menjadi akumulasi masalah,” ungkap dia.

Dia mencontohkan untuk Madrasah Ibtidayah Al-Hilal Wailopin, Dusun Wailopin, Kobisonta, Kecamatan Seram Utara. Sekolah tersebut hanya terdapat tiga bilik, satu bilik digunakan untuk kantor, dua biliknya untuk menampung 100 murid lebih. “Sudah begitu, bilik yang ada sudah tidak lagi layak digunakan untuk manusia,” kata dia.

Satu ruangan yang digunakan untuk belajar mengajar, hanya terbuat dari papan-papan lapuk, dan hancur termakan usia. “Belum lagi bentuknya yang sudah seperti kandang hewan. Benar-benar tidak layak untuk dipakai,” kata Tuhepaly. Karena keterbatasan ruangan, sejumlah murid terpaksa menggunakan Mushola yang tak jauh dari sekolah.

Kasus serupa juga ditemukan di sejumlah sekolah negeri maupun Inpres, seperti di Desa Moso, Dusun Angos, dan beberapa desa lainnya. Masalahnya, seperti ruang terbatas, tidak layak, tidak memiliki kursi meja, dan tenaga pendidik yang tidak ada. “Jumlah gurunya sangat minim. Dan itu guru-guru honor. Mereka rata-rata sudah mengabdi lima sampai 10 tahun, tapi belum diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil),” ungkap Tuhepaly.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi Maluku harus sadar bahwa membangun daerah ini dibutuhkan sumberdaya manusia berkualitas. Kata dia, dengan kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin mereka yang ada di desa-desa tidak pernah akan mendapat kesempatan sama dalam menikmati hasil-hasil pembangunan.

Karena itu, dia mendesak pemerintah untuk lebih memberikan perhatian pada pengembangan pendidikan di desa-desa terpencil, seperti di Pulau Seram, Maluku Tenggara Barat, Maluku Barat Daya, Maluku Tenggara, Kota Tual, Aru, dan Pulau Buru. “Apa yang saya temukan, itu sedikit dari masalah besar yang dihadapi dunia pendidikan Maluku,” kata dia.

Selain pendidikan, persoalan pembangunan infrastruktur dasar menjadi masalah besar yang hingga kini belum juga bisa dituntaskan oleh pemerintah. Dia mencontohkan pembangunan jalan di desa-desa, maupun jalan lintas yang menghubungkan satu desa dengan desa lain, atau kecamatan dengan ibukota kabupaten.

Jalan Lintas Tehoru yang dibangun melalui APBN hingga kini belum juga tuntas dikerjaksaan, padahal jalur tersebut menjadi poros utama yang menghubungkan desa-desa tersebut dengan ibukota kabupaten. “Tak hanya jalan, jembatan juga belum dituntaskan masalahnya. Pemerintah jangan hanya diam saja dong,” kata dia.

Selama ini, kata dia, masyarakat Pulau Seram nyaris tidak pernah merasakan arti dan manfaat dari kemerdekaan. “Kalau sebelumnya saya hanya dengar, sekarang saya benar-benar melihat bahwa kondisi masyarakat di Pulau Seram memang jarang sekali tersentuh pembangunan,” kecam Tuhepaly.

Dia menyampaikan kritikan kepada Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu. “Masyarakat di Dusun Angos, mempertanyakan janji pak gubernur. Mereka meminta saya menyampaikan,” kata Tuhepaly mengutip permintaan masyarakat desa itu.

Selain jalan dan jembatan, fasilitas untuk mendapatkan air bersih, dan keberadaan pusat kesehatan masyarakat juga menjadi kebutuhan mendesak. “Di Desa Wolu, dan Moso tidak ada Puskesmas. Bayangkan kalau musim gelombang besar, mereka yang sakit terpaksa dirawat seadanya, karena jalur jalan darat tidak ada,” kata Tuhepaly.

IDE DAN REALITAS

Ide di definisikan sebgai gambaran yang muncul sebagai pantulan dari entitas real yang objektif. Sedangkan realitas di definisikan sebgai entitas objektif yang ada di luar subjek.
Menanggapi isu realitas dan ide dalam eksistensi, para filsuf terbagi menjadi dua alairan besar ;

- Idealism adalah aliran yang menolak realitas (eksistensi objektif) segala sesuatu.
- Realisme dalam epistemology dan ontology adalah aliran yang membagi entitas dan eksistensi menjadi dua; objektif (real) dan subjektif (ideal). (hakadza nabda, 2227-231,).

Realitas abstrak dan realitas konkrit.

Realitas abstrak atau non materi (al- mujarrad) adalah setiap sesuatu yang sama sekali tidak menyandang ciri-ciri benda. (al- manhaj Al – jaded, juz 2, 139), berlainan dengan pandangan naturalism yang mendasarkan ajarannya pada pengertian “alam”, penganut materealisme berusaha sampai dibalik ‘alam’ dan mengajukan sesuatu jenis subtansi atau kenyataan terdalam yang di sebut “materi”.
Pengertian materi ini sekurang-kurangnya dapat di pisahkan menjadi dua kelompok pengertian yang mencakup pengertian materi yang di kemukakan sebelum berkembangnya ilmu fisika modern dan pengertian di kemukakan setelah berkembangnya ilmu fisikan modern. Sebelum berkembangnya ilmu fisika modern, istilah materi (metter) ini menjadi popular terutama pada masa skolastik, setelah Thomas Aquinas (1225-1274 M) memperkembangkan ajaran aries toteles. Beliau mengemukakan adanya dua macam materi, yaitu materi prima dan materi sekunda. Yang di maksudkan materi prima (prime matter) atu hyle adalah potensialitas murni yang tidak mempunyai pencirian positif apapun. Hyle atau materi prima ini akan merupakan barang sesuatu yang akan bereksistensi dengan cara bersatu dengan bentuk atau morp. Gabungan antara hyle dan morp inilah yang kemudian dapat di identifikasi sebagai misalnya saja emas, perak, atau yang lainnya. Dan gabungan antara hyle dan morp sebagai bentuk subtansi (bentuk yang menyebabkan barang sesuatu menjadi barang sesuatu tertentu) yang demikian ini di golongkannya sebagai materi skunda. (Rudolf allers, 1975).

Dewasa ini penertian materi pada umumnya di artikan semakna seperti yang di maksudkan Thomas Aquinas sebgai material sekunda tersebut. Hendaknya di maklumi materealisme yang berbunyi “every thing that is, is material” selama ini masih mempunyai cakupan arti yang bermakna ganda.
Untuk menjembatani perbedaan pendapat ini, maka kemudian materi atau benda material benda tersebut di definisikan sebagai peradaan yang terdiri dari bagian-bagian proses yang mencakup berbagai kualitas fisik. Kualitas-kualitas fisis ini antara lain posisi ruang dan waktu, ukuran, bentuk, kealaman, massa,kecepatan, soliditas, inersia, kandungan listrik, gerak (spin), kekakuan (rigiditas), suhu, dan kekerasan (hardness).

Daftar kualitas fisis tersebut masih bersitat terbukan bagi penambahan, namun yang sudah dapat di pastikan adalah bahwa semuanya itu terdiri atas berbagai cirri yang merupakan objek ilmu fisika. (keith campell, 1967). Secara singkat sifat-sifat fisis tersebu dapat di ungkapkan sebagai : sifat public, sifat dapat di control, non mental, alami, atau tersecap indera. Pertanyaan – pertanyaan seperti “apa yang terhitung sebagai peradaan fisis?” dan “apa yang terhitung sebagai milik dari kebanyakan peradaan fisis tersebut?” tidaklah di kemukakan jawabannya yang pasti. Konsekuensi dari kenyataan tersebut, maka jawaban-jawaban atas pertanyaan : apakah suatu benda material tersebut?” dan “apakah yang di maksudkan oleh materialism dengan ‘materi’ tersebut” juga tidak mendapat jawaban yang pasti pula. Yang jelas, dapatlah di kemukakan bahwa kesadaran, ketertujuan, aspirasi dan kecakapan mencerap atau mengindera tidaklah tergolong kualitas materi tersebut. Agar kita memperoleh gambaran yang lebih luas, uraian Louis kattsoff (1953) yang mengaitkan pengertian materi dengan pengertian evolusi yang akan di kutip berikut ini perlu di mengerti dengan baik.

“istilah pokok yang melandasi ajaran materialism adalah “materi”. Istilah yang melukiskan perkembangan ialah ‘evolusi’. Materialism modern menolak pengertian mengenai atom-atom yang bersifat keras. Sebagai penggantinya di gunakan istilah-istilah seperti relasi, pola, proses, dan tingkatan. Jika orang mempertanyakan apakah yang di maksud dengan materi, jawabannya mungkin pengertian-pengertian tentang kelestarian, sebab akibat, keadaan sebagi benda mati, dan suatu kerangkan ruang dan waktu. Di katakana bahwa istilah ‘materi’ hendaknya di pakai untuk hal-hla yang bersifat material, baik yang bersifat makroskopis maupun yang bersifat mikroskopis. Dan inilah hal-hal yang bersifat lestari dalam kerangka ruang dan waktu. Di katakana pula bahwa pelbagai tingkatan kenyataan perkembangan melalui proses yang rumit yang berasal dari dalam tingkatannya yang lebih rendah. Meski demikian, pada hakekatnya evolusi merupakan permulaan kembali, suatu penyusunan yang baru dan yang lebih berliku-liku dari materi. Dalam hal ini tidak ada hal-hal yang lain yang tersangkut. Meski demikian, ada titik temu umum dalam bermacam definisi tersebut. Berikut beberapa macam definisi materi.

- Materi atau benda adalah sesuatu yang di kenali dengan indera. (tafsir Ma Ba’da Ath-thabiah, 1476)
- Materi adalah sesuatu (ma’na) yang menyandang forma (shurah) (At- thasil 587)
- Materi adalah subtansi yang memiliki tida dimensi (syahrul-mawaqif 351)
- Materi adalah setiap entitas padat, cair dan gas atau ion yang di inderakan. Sebenarnya, definisi ini tidaklah sempurna, karena ia hanya menunjukan cirri-ciri khas benda. (fisika modern 7)

Agar dapat membedakan materi dan non materi, kita perlu mengenali cirri-ciri khas sebagi berikut:
Ia berada dalam tiga di mensi dan terdiri atas tiga garis bersiku
Ia terinderakan
Ia mengisi ruang
Ia memanjang dalam tiga arah
Ia dapat di bagi secara natural maupun rasional (Al-manhaj Al-jadid, juz2 139-140)

Berdasarkan penelitian sain, telah di ketahui bahwa materi dan energy adalah dua forma bagi satu kuantitas fisik, yang apabila muncul sejumlah energy, maka kemunculannya sama dengan perubahan materi dalam jumlah yang sama, demikian sebaliknya. Atas dasar penemuan ini, maka sifat-sifat padat, cair dan gas mengisi klaim kalau indera adalah alat satu-satunya begi pengetahuan assentual memberikan komsekuensi fundamental, yaitu materialme. Sedangkan klaim bahwa hait adalah alat yang paling tepat untuk menangkap realitas memberikan konsekuensi spiritualisme atau dualism.

JANGAN RELAKAN AMALIAH KITA PERGI BERSAMA RAMADHAN

tidak terasa ramdhan akan segera pergi, akan sedih atau senangkah kita sebagai umat muslim? Dan kita akan segera memasuki bulan syawal atau hari raya idul fitri. Para tokoh mengatakan di hari raya ini adalahhari kemenangan dari perang kita melawan hawa nafsu di bulan ramadhan. Tapi, cona kita tanggalkan sejenak tentang perihal kemenangan itu, mari kita bicara tentang amalan utama ramadhan.

KH. Dr. Dhiyauddin, pengasuh pon-pes Ihya Ussunnah surabaya mengatakan bahwa amalan yang paling utama pada bulan ramadhan adalah sedekah. Dalam hal ini tentu amalan bersedekahini akan sangat membantu saudara-saudara kita yang mengalami puasa sepanjang bulan “kelaparan”.

Akankah amaliah uatam ini akan ikut pergi bersama perginya bulan Ramadhan ? Tetapi terangnya, memang sangat sepakat dengan pendapat KH. Dhiyauddin, sebab potret atau kondisi di negara ini sangat mengkhawatirkan, mengingat kemiskinan merupakan masalah yang selalu mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, fase demi fase, angka kemiskinan selalu meningkat.

Menurut Haeder Nashir, kemiskinan merupakan kondisi kedhuafaan, lemah, atau tertindas secara politik. Sehingga kemiskinan termasuk keadaan lemah secara sosial dan ekonomi. Jadi kemiskinan sangat berkaitan dengan sistem tata pemerintahan yang berwujud ekonomi, sosial dan politik. Namun di sisi lain, kita layaknya suda terlalu bosan berharap kepada pemerintah negeri ini yang seolah ogah ke bawah.

Kita sebagai umat muslim, harus sadar akan kondisi negara ini. Dengan adanya Ramadhan yang di wajibkan mengeluarkan zakat bagi orang yang mampu untuk dapat meringankan beban orang lain. Dan amaliah ini harus kita pegang erat dan jangan relakan ikut pergi dengan perginya ramadhan. Mengingat sistem tata pemerintahan kita yang amburadul. Seharusnya wakil rakyat merakyat, malah foya-foya. Apalagi dalam waktu dekat akan mendapatkan rumah baru, mewah lagi.

Mungkin kemenangan kita bukan untuk bersenang-senang ria, namun kemenangan akan lebih besarnya tanggung jawab moral kita kedepan dan terhadap bangsa ini. Bagaimana tidak ! Amaliah-amaliah di bulan ramadhan ini harus tetap ada pada diri kita. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :”jika seseorang di hilangkan kesulitannya, di ringankan bebannya, di tolong atas semua permasalahannya, dia harus membantu yang lebih susah, lebih menderita, lebih bermasalah dan bersedekah merupakan upaya terbaik untuk membantu orang lain, bahkan musibah dan bencana tidak akan bisa mendahului sedekah”.

Mari kita lihat di negara kita yang telah di katakan masalah kemiskina yang selalu mewarnai di sudut-sudut negeri. Oleh karenanya di tuntut kesadaran individu untuk mengingkatkan amaliah setelah training pada bulan Ramadhan. Jika kita mengaku mempunyai jiwa nasionalis, sudah barang tentu akan kita lebih tingkatkan amaliah bersedekah itu, yang di atas telah di jelaskan bahwa bersedekah merupakan upaya terbaik untuk membantu orang lain. Dan bagi saya, contoh-contoh keseharian dari Nabi Muhammad telah cukup untuk menanggulangi permasalahan ini.